KISAH KASIH - JUARA FAVORIT 10 LOMBA CERPEN EUREKA BOOKHOUSE

Oleh Eureka | 06 May, 2021 |
807
IMG-BLOG
06 05 2021

 

Seorang gadis berambut hitam legam duduk termenung di depan foto mendiang ibunya. Ia terlihat menahan air matanya yang sudah siap jatuh itu. Gadis itu bernama Siti Maysaroh, siswi di SMA Pembangun Cendekia. Ia tinggal berdua bersama bapaknya. Meskipun ibunya telah tiada, bapaknya enggan untuk menikah lagi. Setiap hari bapaknya itu berangkat ke sawah yang terletak di dekat hutan jati.

“May, Bapak mau berangkat dulu. Jangan lupa sarapan kalau mau berangkat,” Ujar Bapaknya kepada Siti. Memang nama panggilan Siti adalah May.

            “Iya pak, hati-hati dijalan,” jawabnya.

Sebelum ia beranjak, ia mengamati bapaknya itu. Bapaknya mengambil cangkul dan bersiap mengayuh sepeda gunungnya. Ia merasa kasihan kepada bapaknya yang setiap hari kerja serabutan untuk membiayai sekolahnya. Setelah bapaknya sudah tak terlihat, ia beranjak ke dapur untuk sarapan. Hari ini menu sarapannya oseng-oseng tempe yang ia masak tadi subuh. Dengan menu yang sederhana, ia tetap makan dnegan lahap. Selesai ia sarapan, ia mengambil tas di bilik kamarnya yang berukuran 2 x 4 meter itu dan segera memakai sepatu. Setelah semuanya siap, ia berangkat kesekolah  dengan sepeda gunungnya.

May, telah sampai di sekolahnya sebelum pukul tujuh. Ia segera masuk kelas dan menempati tempat duduknya yang berada di barisan kedua dekat jendela. Ia sebangku dengan Linda. Linda sosok yang ceria, beda dengan dia yang pendiam dan tidak memiliki banyak teman. May, termasuk siswi yang pandai, buktinya ia bisa masuk 10 besar di kelasnya.

***

Jam dinding telah menunjukkan pukul 14.55, sebentar lagi pembelajarn akan usai. Bu Sari, guru pelajaran terakhir sudah menutup pembelajaran dan siswa-siswi sudah mulai memasukkan buku beserta peralatannya kedalam tas mereka. Tak lama bel pulang berbunyi.

“Baik anak-anak, pertemuan kita hari ini Ibu cukupkan sampai disini. Silakan ketua kelas memimpin berdoa, dan langsung pulang kerumahnya masing-masing,” ucap Bu Sari.

            Selesai berdoa, May bergegas menuju parkiran dan mulai mengayuh sepedanya. Sebelum pulang, ia mampir ke toko kelontong di dekat rumahnya. Ia akan membeli sayur untuk menu makan malamnya nanti.

“Mak, ada sayur apa?” tanya May.

“Ini ada kangkung, sawi. Baru pulang sekolah May kok masih pake seragam?”

“Iya Mak, langsung mampir sini. Mak aku beli kangkung sama tahu, berapa semuanya?”

“Lima ribu. Mau pake plastik?”

“Ndak usah Mak ini aku udah bawa kantong. Ini ya Mak uangnya,” ucap May sambil menyerahkan selembar uang lima ribuan kepada Mak Warsinem.

“Iya, maturnuwun,”

“Iya Mak, aku pamit dulu Mak,”

“Ati-ati Nduk!!”

            May bergegas pulang kerumah, takutnya bapaknya sudah datang dan makanan belum siap. Sesampainya di rumah, ia langsung ganti baju dan pergi kedapur. Hari-harinya memang pekerjaan rumah seperti ini ia yang lakukan semenjak ibunya meninggal. Ia tak merasa kelelahan, justru ia bangga bisa menghidangkan makanan untuk sang bapak. Ia mulai mencuci kangkung yang dibelinya tadi dan menyiapkan bumbunya.

Selesai ia memasak tumis kangkung, iya mulai menyiapkan bumbu untuk menggoreng tahu. Tak lama kemudian ia mendengar bapaknya sudah datang.

“Pak, mau mandi dulu apa makan dulu,” tanya May. Jam  dinding sudah menunjukkan pukul setengah lima.

“Mau mandi dulu saja, ini bapak kotor banget,”

“Yaudah Pak, itu airnya sudah panas,” May kemudian mengambil ember dan menyiapkan air hangat untuk bapaknya.

“Iya Nduk, maturnuwun,” ungkap bapaknya.

Sambil menunggu bapaknya mandi, ia mulai membuka buku dan mengerjakakan PR. Selesai mandi, bapaknya bergegas makan. Dan gantian May yang mandi. Ia masuk ke kamar mandi dan mulai mengguyur tubuhnya dengan air.

Malam harinya ia kembali membuka bukunya dan melanjutkan PR yang tadi belum selesai. Ketika ia melihat bapaknya yang berada di dekat jendela, bapaknya sedang mengurut kakinya itu dengan minyak urut. Kemudian ia menutup bukunya dan  beranjak menuju bapaknya.

“Kenapa kakinya Pak?” tanya May.

“Ngak apa-apa kok Nduk, tadi cuma capek aja,” jawab bapaknya sembari tersenyum.

May merasa kasihan terhadap bapaknya. Ia kemudian mengambil alih untuk memijat kaki bapaknya itu.

“Besok ndak usah ke sawah dulu Pak,”

“Ndak apa-apa bentar lagi juga hilang capeknya kan sudah dipijet sama anak bapak yang paling cantik,” jawab bapaknya.

“Lagi pula besok setelah dari sawah disuruh ke rumahnya Pak Mustaqim, bersih-bersih disana,” imbuhnya

“Besok aku ikut kesawah ya pak,”

Ndak usah kamu dirumah saja, belajar,”

“Kan besok Sabtu pak, besok libur. PR ku juga tinggal sedikit kok,”

“Terserah kamu lah Nduk. Bapak mau tidur dulu ya,”

“Iya pak,”

Ia kemudian kembali lagi mengerjakan PR nya yang sejak sore tadi tertunda. Mulai dibaca dan di pahami deretan angka itu. Selesai mengerjakan PR ia kemudian masuk bilik kamarnya untuk tidur. Ia harus bangun pagi besok.

            Bagaskara mulai menampakkan sinarnya dan membangunkan orang dari lelapnya. May sudah bangun dari tadi, ia tengah memanaskan lauk yang ia masak kemarin dan memasak nasi. Bapaknya tengah memperbaiki cangkulnya yang rusak. Setelah makanan siap, May mengajak bapaknya untuk makan sebeum beranjak ke sawah.

Sesampainya di sawah, ia dan bapaknya langsung bekerja. Sawah itu merupakan sawah Pak Mustaqim. Bapaknya hanya buruh untuk merawat sawah tersebut. May mulai menebarkan pupuk dan bapaknya memperbaki saluran air yang tersumbat. Setelah pekerjaan di sawah selesai, ia pergi ke hutan jati untuk mengambil beberapa kayu yang akan digunakan untuk memasak nanti. Hari semkain siang, ia dan bapaknya berteduh di gubuk dan menyantap bekal yang ia bawa.

“Habis ini, kamu pulang saja Nduk. Bapak mau ke rumahnya Pak Mustaqim dulu,” ucap Bapaknya

“Iya Pak,”

Selesai ia makan ia bergegas pulang ke rurmah sedangkan bapaknya pergi ke rumah Pak Mustaqim untuk bersih-bersih disana. Ketika menjelang sore bapaknya tak kunjung  sampai di rumah. Tiba-tiba ada tetangganya yang memberitahukan bahwa  bapaknya di Puskesmas. Ia langsung bergegas ke Puskesmas.

“Bapak kenapa, kok sampai di sini?” tanyanya

“Pak Sutris tadi  jatuh dari tangga Nduk, katanya bu dokter disuruh istirahat dua pekan,”

May menahan air matanya agar tidak jatuh, bapaknya bekerja keras untuk membiayai sekolahnya. Walaupun lelah, bapaknya tidak pernah ngeluh.

“May, tadi sudah tak bayar obatnya. Nggak usah diganti uangnya ya,” ujar Pak Mustaqim

“Iya pak, terimakasih banyak Pak,” jawabnya

Kemudian ia dan bapaknya diantarkan pulang oleh Pak Mustaqim menggunakan mobil beliau. Sesampainya dirumah, ia menyuruh bapaknya untuk istirahat.

“Bapak mau mandi dulu Nduk, badan lengket ndak bisa tidur,”

“Yaudah Pak, tak siapkan dulu airnya,” ia bergegas menyiapkan air hangat untuk bapaknya.

Kemudian ia memapah bapaknya ke kamar mandi yang berada dekat dapur itu. Selesai bapaknya mandi ia menyiapkan makanan.

“Bapak istirahat saja, kalau butuh apa-apa panggil May saja,”

“Iya Nduk, maaf ya bapak cuma bisa ngrepotin harusnya kamu fokus belajar,”

“Bapak ngomong apa to, nggak ada yang namanya ngrepotin. Sekarang Bapak tidur sudah malam. Obatnya tadi sudah diminumkan?”

“Sudah Nduk kamu juga tidur ya,”

Bapaknya kemudian melihat May yang tumbuh dengan baik walaupun tanpa ibu disisinya. Ia merasa sedih belum bisa memberikan kehidupan yang layak untuk putrinya itu. Ia mengusap air matanya dan kemudian memejamkan matanya.

***

            Senin telah tiba, May telah berada di sekolah untuk mengikuti upacara. Selesai upacara semua siswa kembali ke kelas untuk mengikuti pembelajaran. Pada saat istirahat ia di panggil oleh Bu Santi.

“May, dipanggil Bu Santi. Di suruh ke TU,” ucap Linda kepada May.

“Makasih Lin,”

Kemudian ia bergegas menuju TU untuk menemui Bu Santi. Ia mengetuk pintu dan terdengar sahutan dari dalam, ia masuk dan duduk.

“Begini May, kamu kan belum bayar SPP 3 bulan sedangkan minggu depan sudah ulangan. Kamu harus melunasi tunggakan kamu dulu biar bisa mengikuti ulangan,” terang Bu Santi

“Baik bu, nanti saya sampaikan kepada Bapak,” jawabnya kemudian pamit dan kembali ke kelas.

 Sepanjang pembelajaran ia terus memikirkan bagaimana mendapatkan uang untuk melunasi tunggakannnya itu. Hingga tak berasa sudah waktunya pulang. Ia tak tega memberitahukan ini kepada Bapaknya,  sedangkan bapaknya sedang sakit. Saat perjalanan pulang ia melihat setumpuk kardus dan botol plastik berserakan. Kemudian ia memiliki akal, ia meminta kantong sak kepada Mak Warsinem dan kembali lagi ke tempat kardus itu. Ia mulai memasukkan kardus dan plastik itu kemudian dibawanya  ke tempat pengempul rosok. Sesampainya disana, kardus dan botol itu di timbang dan May mendapatkan uang dua puluh ribu. Lumayan untuk melunasi SPP pikirnya. Ia bergegas pulang dan berniat tidak memberitahu bapaknya kalau dia mulung sampah.

            Esoknya ia bersiap ke sekolah dan tak lupa membawa baju ganti yang akan ia gunakan untuk mulung sampah. Ia kemudian berpamitan kepada Bapaknya. Pulang sekolah ia kembali mulung dan kali ini ia mendapatkan banyak uang. Setelah selesai ia mengganti bajunya  dengan baju seragam lagi agar Bapaknya tak curiga. Sesampainya dirumah, bapaknya sudah berada di teras menunggu kedatangan May.

“Bapak kok nggak istirahat, sudah mendingan ?” tanya May.

“Bapak nggak akan tenang setelah tahu putri Bapak mulung sampah,” sarkas Bapaknya

May kaget, bagaimana bapaknya tahu kalau ia mulung.

“Kenapa, uang saku kamu kurang?” tanya bapaknya

Ia bingung harus menjawab apa. May hanya bisa tertunduk diam.

“Bapak ndak pernah nyuruh May buat mulung, Bapak ingin May hanya fokus ke sekolahnya May saja,”

“Maafin May Pak, May hanya ndak pengen ngerepotin Bapak. Apalagi Bapak sakit,” ucap May sambil menahan isak tangis

“May sudah ditagih uang SPP pak sama Bu Santi, kalau May ndak bayar May ndak ikut ulangan minggu depan,” imbuhnya

Setelah mendengar itu, bapaknya langsung berkaca-kaca. Bagaimanapun ia sosok yang rapuh.

“Kenapa May ndak bilang,” kemudian bapaknya masuk kedalam rumah dan diikuti May dibelakangnya. Bapaknya ke kamar dengan jalan yang tertatih, dan menyerahkan beberapa lembar uang.

“Ini buat bayar SPP kamu, mulai besok nggak usah mulung lagi,”

Pecahlah tangis May dipelukan Bapaknya itu. Bapaknya memang luar biasa, kasih sayang kepada May tak tertandingi lagi. May tahu, uang itu adalah uang yang seharusnya digunakan untuk membayar utang kepada tetangganya.

“Sudah, jangan nangis lagi uang bisa di cari lagi. Sana mandi terus makan,” ujar Bapaknya.

Ia sudah tak sanggup berkata-kata lagi, ia bergegas mandi dan bersih-bersih rumah.

***

Esok harinya, May bersiap pergi ke sekolah. Bapaknya itu juga bersiap pergi kesawah.

“Loh Bapak kok sudah pergi ke sawah kan kakinya masih sakit ?” tanya May.

“Nggak apa-apa kok Nduk, sudah mendingan. Sudah sana berangkat jangan khawatirkan Bapak,” ucap Bapaknya sambil tersenyum

May merasa sangat bersalah kepada bapaknya, ia ingin cepat-cepat lulus dan bekerja untuk membantu bapaknya. Segera ia berangkat menuju sekolahnya.

Enam tahun kemudian May telah bekerja di Industri Pangan setelah menempuh pendidikan S1 Agroindustri. Lulus SMA ia mendapatkan beasiswa sehingga ia dapat melanjutkan pendidikannya. Kehidupannya juga mapan, ia telah berhasil membelikan sawah dan rumah untuk bapaknya. Bapaknya juga tak di bolehkan bekerja yang berat mengingat umurnya yang renta. Ia pun berhasil memberangkatkan haji bapaknya, cita-cita bapaknya sejak dulu. Namun, diusia yang ke 61 tahun, bapaknya di panggil oleh Sang Pencipta. Dia merasa sangat terpukul, namun ia kembali ingat bahwa sejatinya setiap manusia akan meninggal.

***

May menutup album foto bersama almarhum bapaknya. Di usapnya air mata yang turun berjatuhan.

“Mama kok nangis, kenapa Ma ada yang nyakitin Mama ya?” tanya Kia, putri kecilnya May.

“Enggak kok, Mama cuma kangen sama Eyang Kia,” ujarnya

“Eyang itu, sosok yang sangat sayang kepada Mama dulu. Beliau rela berkorban untuk Mama. Nah Kia, sekarang jangan suka membantah kata Ayah ya. Kasihan Ayah, Ayah bekerja keras untuk Kia dan Mama. Kia sayang nggak sama Ayah?”

“Aku sayang banget sama Ayah Ma,”  celetuk Kia.

“Yaudah sekarang kita masak yuk, biar Ayah pulang makanan sudah siap,” ajak May.

“Let’s  go!”

            Ayah adalah sosok pahlawan tak kenal lelah dalam berjuang untuk anak istrinya di rumah. Teriknya matahari tak dihiarukannya. Ia sosok yang tangguh, walaupun sakit ia tetap bisa tersenyum. Ayah sosok yang luar biasa untuk hidup kita, tanpa Ayah kita bukan siapa-siapa. Terimakasih ayah atas segala pengorbananmu, semoga tenang disana.

Salam sayang, Siti Maysaroh.

~T A M A T~

Biodata Pengarang :

Namanya Ika Saputri Ningsih, biasa di panggil Ika, ia tinggal di  Pacitan, Jawa Timur. Saat ini duduk di bangku Sekolah Menengah Kejuruan dengan jurusan Akuntansi dan Keuangan Lembaga.

 

 

Generic placeholder image

DITULIS OLEH

Eureka Writer

Content Writer

Content Writter eurekabookhouse.co.id

New Entry